KERUSUHAN 98

Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu babak terkelam dalam sejarah modern Indonesia. Peristiwa ini bukan hanya sekadar huru-hara biasa, melainkan puncak dari akumulasi krisis multidimensional yang telah lama membelenggu bangsa.

​Latar Belakang Masalah

​Untuk memahami kerusuhan ini, kita perlu melihat ke belakang pada situasi politik dan ekonomi di akhir masa Orde Baru.

  1. Krisis Ekonomi: Pada pertengahan tahun 1997, krisis finansial Asia menghantam Indonesia dengan sangat keras. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS anjlok drastis, dari sekitar Rp 2.500 menjadi lebih dari Rp 16.000. Inflasi melonjak, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, dan PHK massal terjadi di mana-mana. Hal ini menciptakan penderitaan dan ketidakpuasan yang meluas di masyarakat.
  2. Krisis Politik dan Kepercayaan: Selama 32 tahun, rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dipandang otoriter. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela di segala lini pemerintahan. Kecurangan dalam Pemilu 1997 dan terpilihnya kembali Soeharto untuk ketujuh kalinya memicu kemarahan rakyat, terutama mahasiswa, yang menuntut reformasi total.
  3. Tragedi Trisakti: Puncak dari ketegangan ini terjadi pada 12 Mei 1998. Demonstrasi damai mahasiswa di Universitas Trisakti, Jakarta, berakhir tragis ketika aparat keamanan menembakkan peluru tajam. Empat mahasiswa tewas, yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Kematian mereka memicu gelombang kemarahan yang tidak terbendung.

Komentar

Postingan Populer